Monday, July 8, 2013

Yang Buruk Juga

By: MAXI Eman
Nats: Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau       menerima yang buruk?
(Ayub 2:10)
                       YANG BURUK JUGA 
Ayub orang terkaya pada masanya, saleh dan takut akan Allah. Dia   memiliki banyak harta dan hidupnya damai sejahtera. Dia menikmati   hari-harinya dengan bersemangat. Lalu, Tuhan mengizinkan Iblis   mengambil semua yang ia miliki. Seluruh tubuhnya — dari telapak   kaki sampai batu kepalanya — pun penuh dengan barah busuk. Orang   dapat melihat dengan jelas betapa berat penderitaan. Tetapi, Ayub   tidak protes: “Saya sudah melakukan semua kehendak-Mu, mengapa hal   ini terjadi sama saya?” Ayub justru berkata, “Aku akan   melompat-lompat kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas   kasihan, sebab aku tidak pernah menyangkal Firman Yang Mahakudus”   (Ayub 6:10). Artinya, Ayub siap menerima baik perkara yang baik   maupun perkara yang buruk dari Tuhan.   Ketekunan Ayub berbuah. Pada pasal terakhir kitab Ayub, Tuhan   memulihkan keadaan Ayub dan Tuhan memberikan kepadanya dua kali   lipat dari segala kepunyaannya dulu. Ayub memilih tetap berpegang   pada Tuhan, entah dalam keadaan baik entah dalam keadaan buruk.   Terbukti, Tuhan tidak pernah membawa kita kepada keadaan yang   melampaui kekuatan kita.   Mungkin yang kita alami tidak separah pengalaman Ayub. Namun, saat   melewati keadaan yang buruk, masih bisakah kita percaya penuh pada   Tuhan dan janji-janji-Nya? Apa yang kita lakukan jika bisnis kita   gagal atau terjadi peristiwa yang tidak kita harapkan, padahal kita   sudah aktif dalam pelayanan? Apakah kita akan protes atau tetap   percaya bahwa janji Tuhan itu ya dan amin? –Istiasih                   
JANJI TUHAN ITU SEPERTI MATAHARI           YANG TETAP BERSINAR MESKIPUN TERALANG AWAN MENDUNG

No comments:

Post a Comment