By: MAXI Eman
Nats: Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?
(Ayub 2:10)
YANG BURUK JUGA
Ayub orang terkaya pada masanya, saleh dan takut akan Allah. Dia
memiliki banyak harta dan hidupnya damai sejahtera. Dia menikmati
hari-harinya dengan bersemangat. Lalu, Tuhan mengizinkan Iblis
mengambil semua yang ia miliki. Seluruh tubuhnya — dari telapak kaki
sampai batu kepalanya — pun penuh dengan barah busuk. Orang dapat
melihat dengan jelas betapa berat penderitaan. Tetapi, Ayub tidak
protes: “Saya sudah melakukan semua kehendak-Mu, mengapa hal ini
terjadi sama saya?” Ayub justru berkata, “Aku akan melompat-lompat
kegirangan di waktu kepedihan yang tak kenal belas kasihan, sebab aku
tidak pernah menyangkal Firman Yang Mahakudus” (Ayub 6:10). Artinya,
Ayub siap menerima baik perkara yang baik maupun perkara yang buruk
dari Tuhan. Ketekunan Ayub berbuah. Pada pasal terakhir kitab Ayub,
Tuhan memulihkan keadaan Ayub dan Tuhan memberikan kepadanya dua
kali lipat dari segala kepunyaannya dulu. Ayub memilih tetap
berpegang pada Tuhan, entah dalam keadaan baik entah dalam keadaan
buruk. Terbukti, Tuhan tidak pernah membawa kita kepada keadaan yang
melampaui kekuatan kita. Mungkin yang kita alami tidak separah
pengalaman Ayub. Namun, saat melewati keadaan yang buruk, masih
bisakah kita percaya penuh pada Tuhan dan janji-janji-Nya? Apa yang
kita lakukan jika bisnis kita gagal atau terjadi peristiwa yang tidak
kita harapkan, padahal kita sudah aktif dalam pelayanan? Apakah kita
akan protes atau tetap percaya bahwa janji Tuhan itu ya dan amin?
–Istiasih
JANJI TUHAN ITU SEPERTI MATAHARI YANG TETAP BERSINAR MESKIPUN TERALANG AWAN MENDUNG
No comments:
Post a Comment